Thursday, April 19, 2007

Tentang Pendidikan

Semestinya penyelenggaraan pendidikan di mana pun tempatnya, baik di rumah maupun di luar rumah tidak boleh tercampur dengan berbagai bentuk kekerasan seperti ancaman, penindasan, pemaksaan, dan juga penganiayaan fisik-nonfisik.

Namun, dengan terbunuhnya Cliff Muntu, salah seorang praja di IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), kita kembali tersadar bahwa rupanya kekerasaan telah menyatu dengan kegiatan pendidikan.

Friday, March 23, 2007

Laki laki dan Hujan


Hari ini sekitar jam 12:16 pagi, gw menerima imel dari seorang kawan lama, subjek imel masih sama, Ucapan selamat ulang tahun buat gw, tapi isinya luar biasa merisaukan hati. Masih tergambar jelas bait terakhir di imel yang ditulis mas Tirtir:

Ultimus bukanlah soal heroisme atau kontroversi, jangan tanya apa yang terjadi di sana. Ada buku-buku di sana yang menunggu untuk dibaca dan kita perbincangkan bersama. Ada tanggung jawab bagaimana buku-buku itu bisa lebih berharga dari secangkir kopi dan sebatang roti di kafe.

Intinya bercerita seputar Toko buku Ultimus dan pembubaran sebuah diskusi tentang Marxisme ditempat yang sama yang turut disertai aksi anarkis dan diakhiri dengan penyegelan toko buku tersebut.

Tapi bukan itu yang bikin hati gw kebat-kebit. Dalam setiap artikel yang gw baca dan disetiap perbincangan yang gw denger tentang insiden Ultimus. ada sebuah nama: Bilven. Dia kakak kelas gw di kampus. 

Nama yang begitu familiar di kepala gw. Di imel itu pula terdapat potongan wawancara Mulyani Hasan (kontributor sindikasi Pantau di Bandung) dengan Bilven. 

Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.

"Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya," katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan. "Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin," katanya, lagi. Secangkir kopi panas pesanannya tiba.

"Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan," ujar Bilven.

"Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus." Ia terus bicara.

"Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak," lanjutnya.

Bilven lolos saat Permak (Persatuan Masyarakat Antikomunis ) melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah. Namun, ia ternyata belum tenang. Selama tak ada jaminan dari polisi, anarki model Permak bisa terulang sewaktu-waktu.

Ah, Bilven, Bilven. Freedom is like money, some other people might have it more than other. Bilven, dulu, selalu menyapa gw dalam kalimat sama: "Apa kabar, Nona?" Masih dengan topi panser hijau dan jaket hitam kesayangannya yang lusuh dimakan waktu.

Gw nggak ingat pasti kapan mulai kenal dia, Yang pasti, wajahnya selalu ada disetiap diskusi yang gw datengin. Waktu warung rawon bude di kampus kami belum pindah ke sisi timur kantin, gw, mas Bintang, mas Wahyu, dan Bilven sering berbagi lembaran koran bersama disitu, berusaha memanfaatkan waktu luang, sambil menunggu jam kuliah. Terkadang bertukar joke seputar berita koran yang bikin kami ngikik setengah mati sendiri. Bahkan dulu, saat Bilven masih ditengah usaha meraih gelar masternya dari ITB, dia masih suka nongol di kantin gw, melakukan hal sama: memesan secangkir kopi hitam. Dan masih ditemani topi panser dan jaket hitamnya.

Pernah sekali itu, saat senja bergerimis, gw lihat dia dari jauh. Menggenggam sebuah koran, dan sedang berpikir untuk menerobos hujan. Hal yang dia lakukan benar-benar diluar dugaan gw, bukannya menjadikan koran itu sebagai "payung" agar air hujan sedikitnya tidak membasahi kepala, eh, malah koran itu diselipkan dibalik jaketnya, dan dibiarkan air hujan yang dingin itu memeluknya dalam diam. Damn, dia lebih mencintai koran dibanding dirinya sendiri.

Terakhir ketemu, awal tahun 2006, Waktu itu gw, dan akwan-kawan gw mampir ke UltimusGw sempat ngambil foto mas Lilik dan Bilven yang berangkulan dengan akrabGw masih ingat, sebelum itu, kami juga pernah ketemu di acara diskusi tentang puisi dan kesenian. kalo nggak salah, di pusat kebudayaan Perancis, Bandung. Usai acara, gw ngeliat, eh ada Bilven, dia juga ngeliat gw. Dan dengan gaya yang persis sama seperti yang lalu-lalu, dia tersenyum, "Apa kabar, Nona?" katanya singkat. With his deadly smile.

"Ding!"  Lalu ada Pesan masuk di ponsel gw. Lamunan gw seketika buyar, Ternyata dari seorang mantan aktivis lain, "Kamu Lagi dimana? Sedang apa? Sama siapa? Kepalaku pusing, baru pulang. Dari tadi pagi ikut training partai. Aku mau berangkat ke Norway."

Gw selalu mengagumi semua ciptaan Tuhan, Tapi gw sangat bersyukur jika gw bisa, setidaknya sempat, bertemu dengan laki-laki seperti Bilven yang berani menghadapi hidup.
 
Teringat potongan puisi Widji Tukul "Tujuan Kita Satu Ibu" kalimat ini gw persembahkan untuk Bilven:

kita tidak sendirian, kita satu jalan
tujuan kita satu ibu: pembebasan!


Sunday, March 18, 2007

Perempuan Tersudut Waktu

Sore-sore, gw lagi riweuh banget ngedit tabel kusut di server unix 'favourite' gw. Gak ada angin gak ada ujan, gw tetiba aja keinget Gigi, temen kuliah dulu. 

She once wrote me an email:

Setelah membaca blog lo, gue makin yakin kalo gue harus ketemu sama lo, yum. Secara gue sekarang lagi berada dalam hubungan yang bikin gue nggak tenang dan nggak gue banget deh.

Udah gitu kata-katanya sama banget sama (blog) lo lagi, dia bilang 'kamu kok maksa? aku nggak suka dipaksa' ah bajingan.. gue berasa restless selain berasa sendirian.. tapi gue ngerasa baik baik aja, karna kata loe kan "lebih baik galau daripada menyerah dalam kemunafikan"

ah gila lo, yum.. gue kangen berat sama lo.. 

gue harus cerita banyak nih sama lo, secara banyak hal yang patut gue pertanyakan di hidup gue.. lo tengokin gue ke surabaya dong yoem, weekend gitu, ntar nginep di kos aja.. sebenernya lately gue agak agak desperate sih, pokoknya kangen banget nih sama lo.. 

I miss her a lot. 

Dalam dunia kami yang bergerak begitu cepat dan tanpa maaf, kami sangat merindukan waktu yang bisa dibekukan secara instan (atau kalo bisa abadi juga boleh). Berangkulan dengan malam yg tenang, ditemani segelas kopi, duduk bersamping-sampingan, tanpa suara ataupun kata-kata, hanya sama-sama menjelajah langit bergemintang. 

Kami berdua, typical manusia modern yang terikat dunia konservatif masa lalu. Kami memang dua wanita sophisticated yang selalu dihadapkan pada pilihan ruwet. 

Saat ini, hampir semua realitas yang ada, bisa dengan mudah kami raih. Tetapi realitas itu melahirkan anomali tatkala tekanan lain mematikan rasionalitas. Terdengar sedikit utopis, but that's why we're so simple but keep sophisticated. We believe we both were lady warriors who fought back to back long time a go, in another different life.

Semua laki-laki yang pernah mengarungi hidup bersama kami, selalu kalah diakhir. At they end kami selalu menjadi pihak yang superior, pemberontak dan tak mau diatur. Padahal kenyataannya, dalam setiap hubungan yang pernah kami jalin, Gw n Gigi adalah dua wanita gila yang mau mengalah dan melakukan apapun demi cinta.

Kami berdua berdarah Jawa (tanpa bermaksut untuk rasis), sehingga aliran "dewi sembada" dalam diri kami sudah begitu kental. Mungkin memang sudah digariskan begitu. Ada apa dengan dunia? dunia tiba-tiba saja menjadi tempat paling sunyi dan asing buat kami.

Those boys always finnaly fought us and said: Perempuan modern adalah sesuatu yang outwords, kami sebagai laki-laki tidak mau diinjak-injak begitu saja (miris bergerimis dengernya). Dalam emosi kami yang begitu rungkut dan padat, kami hanya ingin berkata bahwasanya celah perspektif feminisme bukan dilihat dari tempat, lalu apa salahnya menjadi sesuatu yang berbeda? Apa salahnya menjadi seorang perempuan seperti gw dan Gigi? toh modernisme itu nggak akan begitu saja mematikan kodrat kami sebagai seorang perempuan, kalau kami keren, itu semua hanya sebuah pencapaian kami, pencapaian energi maskulin kami para perempuan untuk keluar dari typicalitas.

Dalam batas emosi itu, gw ditarik kembali lagi ke masa sekarang, menemani beberapa baris command unix yang tadi gw ketik. Namun, gw masih termangu. 

Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata: Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan, dan Jika Anda mempersiapkannya dengan baik, Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik.

Gw dan gita so much believe, women like us bukan lah penjajah, kami hanya seorang filosofer numpang lewat, yang sangat menghargai hidup lewat citra warna yang sedikit berbeda dari perempuan kebanyakan.

Sunday, March 4, 2007

a Silent Good bye

heningmu tersekap kudekap
menggenapkan sunyimu di malam dinginku

kelak, saat kau singgah dalam mimpiku
mungkin tak ada lagi airmata gugur

sebab masa kita telah usai dan rindu telah selesai dibekukan

Saturday, March 3, 2007

Tentang Kekuatan

Sungai yang diarungi dapat membuatmu kuat.
Tapi sungai yang hanya kamu pandangi,
hanya akan melemahkan hati.

Sunday, February 25, 2007

Untittled

Seperti air mengalir katamu?
mengalir seperti jua anganmu tak henti.

berhentilah disini.. dihatiku,
jika kau mau.[]

Monday, February 19, 2007

Esensi Menjadi Manusia

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan,
Orang juga akan melupakan apa yang kamu lakukan.

Tapi, orang tak akan pernah lupa bagaimana kita membuat mereka merasa berarti.[]