Saturday, April 21, 2007

Pasungan Perempuan

Waktu pulang kerja, Sambil duduk dibangku taman dekat kantor, menyeruput teh hangat di negara antah berantah ini. Sudah 6 kali lebih sedikit gw menguap. Oksigen di otak semakin menipis. Ada perputaran misterius dikepala gw yang berebut minta dihapus. Seribu pertanyaan gw tentang "Perempuan" yang telah banyak terjawab, tiba-tiba menimbulkan sebuntel masalah baru yang membuat gw KEMBALI terjebak. Ini seperti labirin tak berujung!

Secara TEORI (menurut KONSEP "Kartini"), harusnya gw sebagai perempuan, dimasa sekarang ini telah MERDEKA. Tapi menilik kejadian yang sudah-sudah, justru realisasi 'konsep Kartini', kini menjadi semakin blur dan absurd. Gw tetap merasa kalo para perempuan masih "terpasung" dalam teori kebebasan ini. Masih terjajah oleh laki-laki. 

Terpasung dari sisi luar berupa 'siksaan' mantap egosentris lelaki, ataupun terjajah dari dalam berupa pembatasan yang mengakibatkan creativity congest (melambatnya kreatifitas) akibat kata-kata sakti: KODRAT PEREMPUAN. 

Dua kata sakti tersebut membuat gw stuck, karena sebagai perempuan, kami menjadi takut untuk bergerak mengikuti visi dan nurani kami sendiri. Akibatnya? mau mundur salah, mau maju juga akan tetap jadi masalah. Dengan kata lain, apa yang diharapkan, dengan bagaimana kenyataannya, SUNGGUH jauh bergeser dari titik awal tujuan konsep Kartini bermula.

Wacana ini timbul hanya dari hal sepele sebenarnya, bermula dari diskusi singkat dengan My ishtar summer: Zachrie, tentang 'Mengapa Perselingkuhan di Indonesia kian marak terjadi'. Sebagai statement pembuka, Zach berasumsi bahwa sebenarnya Istri juga turut mengambil peran penting dalam menentukan tinggi rendahnya probabilitas perselingkuhan yang dilakukan suami.

Then my question is: "WHY?"

Apakah karena Istri mengalami perubahan secara fisik seiring waktu?
Apakah karena karena Suaminya bosan?
Apakah karena kebutuhan seks yang monoton?
Apakah karena kenaikan pangkat suami?
Apakah karena gelimang harta dan tahta suami?
Apakah karena karena prestige dan tuntutan sosial suami?

Zach menjawab sendiri pertanyaan itu: "yes, of course. Itu manusiawi."

Gw merasa ada ketimpangan disitu. But my next question is: "HOW? Bagaimana itu bisa terjadi?"

Secara diplomatis Zach menjawab: "Wajar sweetheart, dalam dunia pekerjaan beserta tantangannya, Suami mampu terus mengupayakan dirinya untuk lebih maju, lebih kompleks, lebih majemuk, lebih survived dll dkk dsb, sehingga secara automatic, seiring bertambahnya waktu, pencapaian sang suami terhadap kualitas hidupnya dapat terus meningkat secara significant..."

By that time, I did not question him. Just silent. But this silence is deafening.  

Zach melanjutkan: "Well, as you may know, Istri itu lebih banyak di rumah, dan perubahan kualitas hidupnya nggak berjalan begitu cepat, dunia istri berjalan jauh lebih lambat dari sang suami.. dan akibatnya bisa kamu prediksi kan? sang suami akan merasa nggak puas, lantas mencari sosok wanita 'baru' yang dapat berimbang dengan dirinya, yang selevel dengan pencapaian kualitas dia.."

Gw menarik nafas, rasanya agak tidak adil, but I did not question him further. 

Tapi benak gw berisik: "Why that husband just don't give his wife a chance? Maksut gw, biarkan Istrinya bekerja. Atau at least, let her does some activities untuk menjadikan dirinya juga bisa maju, bisa menjadi lebih kompleks, lebih majemuk, juga lebih survived seperti sang suami.. Kalo memang suaminya mengerti, lantas kenapa tidak memberikan hak dan kesempatan yang sama? the solution is so simple..."

Dari situ, tatanan konspirasi murni di otak gw bergejolak. Jangan-jangan, pembodohan 'konsep Kartini' yang kayak gini masih berlanjut pada banyak perempuan di luaran sana. 

Pasti diluaran sana masih ada lelaki bodoh dan apatis yang ingin berlari kencang guna mencapai segala kesempurnaan hidup seorang diri (padahal menikah itu berarti ada dua orang, bukan?) lalu setelah semua pencapaian dan kesempurnaan itu dalam genggaman, si lelaki bodoh ini merasa Istrinya nggak "selevel" dia dan tidak patut mendampinginya lagi, sehingga dia tinggalkan si Istri dan mencari wanita lain yang dirasa mampu mengimbangi kesempurnaan hidup si lelaki hebat ini. Sementara itu, bisa jadi, si Istri menjadi "congest" (melambat) bukan karena emang secara lahiriyah bodoh, melainkan karena rayuan busuk sang suami: "Sayang, Biar saya yang melakukan semuanya untuk kamu, Kodrat istri (maaf) dirumah saja ya?"

SINTING!

ini namanya Azas manfaat, memanfaatkan atas nama kodrat kepatuhan perempuan, dan beberapa waktu setelah kepatuhan itu, laki-laki berkata: "Buset, perempuanku ini terlalu lambat, nggak sesuai jaman, buang saja!" ini Gila namanya. Sungguh tak adil. 

Melihat lamanya gw terdiam, Zahrie menjitak pelan jidat gw dengan penuh kasih sayang, "That's why, you need to find a super fine, cleaver and wise partner. Like me. For sure I will not let you walk behind me."

He's reading my mind.    

Gw tenggelam dalam pikiran gw. Pria pada umumnya selalu bereuforia dengan kondisi yang ada, sehingga dalam diri mereka nggak ada sense of crisis yang mampu membangkitkan kesadaran moral mereka akan adanya kompleksitas dan kekuatan terdalam seorang perempuan.

Kebayang deh pada masa dimana kondisi pencapaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan masih berimbang, lelaki itu akan berkata:
"Neng, Lelaki adalah kepala keluarga dan harus bertanggung jawab terhadap keluarga yang dimilikinya, Well, sebenernya Abang sangat setuju kalo kamu harus menjadi wanita yang memahami dunia kehidupan dan memiliki pengalaman yang segudang. Abang dukung kamu untuk memiliki berbagai kesibukan, tapi neng, sampai kapan? apakah ketika sudah menikah.. dirimu akan tetep jd wanita super? Kamu harus bisa mengurangi kesuperanmu karena kamu harus melayani keluarga, itu kodrat perempuan."

Lagi lagi koata: kodrat. Ini yang namanya perempuan terjebak dalam pasungan. Itu nggak fair sama sekali. Apanya yang harus dikurangi? Tingkat keSUPERan seorang wanita? I am not 100% feminist, but I extremely disagree for this.   

Dengan berkeluarga, harusnya lelaki berharap para wanitanya menjadi semakin cerdas! Ngurus rumah tangga, ngurus anak, ngurus finance keluarga, ngurus suami, ngurus kerjaan, membutuhkan kesabaran dan kecerdasan tingkat tinggi. 

As a matter of fact, generally, memang pertama: banyak lelaki yang cenderung nggak sadar telah memulai proses pelambatan pada perempuan. Kedua, Perempuan cenderung 'manut', nurut, dan luluh cuma gara-gara kata: "Kodrat". 

jika posisinya seperti itu, perempuan pasti berada dalam kondisi terhimpit seperti sandwich, mau mundur salah, mau maju, tetap akan bermasalah. Mau mundur, laki lo cari 'mistress' baru, mau maju, dibilang melawan kodrat. Emansipasi dari hongkong!
 
Gw jadi inget, gw pernah terlibat dalam sebuah diskusi seru tentang Perempuan. Awalnya kita lebih membahas tentang bagaimana orang-orang selalu memandang perempuan sebagi objek, titik. Well, secara biologis, Perempuan nggak statis gitu aja. Perempuan juga merupakan substansi yang bisa berfikir dan ada kemungkinan LEBIH cerdas dari laki-laki. Fakta itu merupakan salah satu produk emansipasi, karena emansipasi untuk masa sekarang, juga berarti: "pemberi inspirasi".

Kebayang kan pribahasa: "Behind great man lies a great woman"?

Lalu Kebayang juga nggak, gimana majunya bangsa kita kalo kualitas dari segi mental dan psikis seorang perempuan meningkat lebih baik? 

Gw pernah dicap sebagai wanita nggak tau yang nggak mengindahkan "kodrat" gw sebagai seorang perempuan (Ah, mental manusia jajahan! kebiasaan nggak mau mengkaji lebih dahulu, tetapi langsung memvonis!). Ini bukan masalah butuh atau nggaknya gw sama lelaki, gw ini cuma memberikan pandangan bahwa nggak boleh ada penciptaan "pasung" jenis baru yang menghambat kemajuan seorang wanita dalam menata kehidupannya.

Lelaki juga harus bersikap lebih cerdas untuk mesikapinya, jangan hanya berkata sepakat, tapi dibelakang mengumpat. Bagaimanapun peran lelaki sangat penting untuk mengupayakan penghilangan pasung-pasung penjerat kebebasan wanita ini. 

Kita butuh lelaki yang semakin cerdas dan mampu melihat what's beyond. Lelaki yang dapat mengesampingkan ego dan mampu memberikan dukungan penuh agar konsep 'Kartini' nggak sekedar berada dalam garis teori. Kita butuh lelaki yang 'bermoral' dimana kearifan moral itu nggak murni dari otak (pemikiran) mereka, tetapi lebih bersumber dari hati. 

Kita nggak hanya perlu meningkatkan kecerdasan berpikir seorang perempuan, tapi kita butuh penciptaan kondisi sinergis dan kondusif untuk mendukung perempuan dengan segela keterbatasannya. Keterlibatan seorang pria yang bijak, cerdas, dan memiliki nurani menjadi main ingridient dalam konsep resep "pembebasan pasungan pada perempuan" ini.

Masalahnya, elemen masyarakat kita terlalu majemuk, dan sangat sulit menyamakan persepsi. Wacana revolusi pembebasan perempuan dalam pasungan ini terlalu imajinatif untuk direalisasikan. So, ada ide untuk keluar dari labirin setan ini? (kadang sesama perempuan sendiri malah justru membantu memasang pasungan kepada sesama perempuan lain, ini brutal factnya).  

Gw berharap, di Hari Kartini ini, semoga belenggu, rantai dan "pasung" itu benar-benar bisa lepas. 

Andaikata aku jatuh ditengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, Sebab bagaimanapun jalan telah terbuka.. (Habis gelap terbitlah terang, Door duisternis tot licht - April 1911)

Selamat Hari Kartini, Wahai para wanita Indonesia. Berbahagialah kita atas 96 tahun pelepasan rantai dan "pasung" perbedaan Gender yang sempat menghimpit arah, ruang gerak dan visionari kita sebagai Perempuan.

(This Blog, surely, debatable)

Thursday, April 19, 2007

Tentang Pendidikan

Semestinya penyelenggaraan pendidikan di mana pun tempatnya, baik di rumah maupun di luar rumah tidak boleh tercampur dengan berbagai bentuk kekerasan seperti ancaman, penindasan, pemaksaan, dan juga penganiayaan fisik-nonfisik.

Namun, dengan terbunuhnya Cliff Muntu, salah seorang praja di IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), kita kembali tersadar bahwa rupanya kekerasaan telah menyatu dengan kegiatan pendidikan.

Friday, March 23, 2007

Laki laki dan Hujan


Hari ini sekitar jam 12:16 pagi, gw menerima imel dari seorang kawan lama, subjek imel masih sama, Ucapan selamat ulang tahun buat gw, tapi isinya luar biasa merisaukan hati. Masih tergambar jelas bait terakhir di imel yang ditulis mas Tirtir:

Ultimus bukanlah soal heroisme atau kontroversi, jangan tanya apa yang terjadi di sana. Ada buku-buku di sana yang menunggu untuk dibaca dan kita perbincangkan bersama. Ada tanggung jawab bagaimana buku-buku itu bisa lebih berharga dari secangkir kopi dan sebatang roti di kafe.

Intinya bercerita seputar Toko buku Ultimus dan pembubaran sebuah diskusi tentang Marxisme ditempat yang sama yang turut disertai aksi anarkis dan diakhiri dengan penyegelan toko buku tersebut.

Tapi bukan itu yang bikin hati gw kebat-kebit. Dalam setiap artikel yang gw baca dan disetiap perbincangan yang gw denger tentang insiden Ultimus. ada sebuah nama: Bilven. Dia kakak kelas gw di kampus. 

Nama yang begitu familiar di kepala gw. Di imel itu pula terdapat potongan wawancara Mulyani Hasan (kontributor sindikasi Pantau di Bandung) dengan Bilven. 

Pada 16 Desember 2006, saya menemui Bilven Rivaldo Gultom di sebuah kafe. Lelaki berkulit kuning langsat ini belum genap 30 tahun. Ia berusaha gembira, meski hatinya gelisah.

"Saya belum merasa bebas. Berdasarkan informasi dari orang-orang terdekat saya, ada banyak orang tak dikenal mencari-cari saya," katanya. Sebentar-sebentar ia melihat layar telepon selulernya. Bunyi pesan yang masuk menyaingi suara hujan. "Saya tidak mengerti tuduhan mereka. Mungkin saya dituduh komunis karena saya miskin," katanya, lagi. Secangkir kopi panas pesanannya tiba.

"Saya dan kawan- kawan hanya ingin mengembalikan filsafat Marx pada posisi terhormat sebagai ilmu filsafat yang layak dipelajari. Karena ilmu-ilmu sosial yang ada tidak bisa menjawab beberapa persoalan yang pokok yang berhubungan dengan kehidupan," ujar Bilven.

"Selama ini, ajaran Marx banyak digunakan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk merebut kekuasaan. Itu yang tidak saya sepakat. Karena itu akhirnya ajaran Marx juga ikut diberangus." Ia terus bicara.

"Revolusi itu akan terjadi pada tingkat pemikiran. Indikatornya, tidak ada lagi pemberangusan, tidak ada korupsi dan orang-orang akan menggunakan akal pikirannya berdasarkan logika bukan lagi menggunakan hal-hal yang abstrak," lanjutnya.

Bilven lolos saat Permak (Persatuan Masyarakat Antikomunis ) melancarkan penangkapan. Sejak saat itu ia tinggal berpindah-pindah. Namun, ia ternyata belum tenang. Selama tak ada jaminan dari polisi, anarki model Permak bisa terulang sewaktu-waktu.

Ah, Bilven, Bilven. Freedom is like money, some other people might have it more than other. Bilven, dulu, selalu menyapa gw dalam kalimat sama: "Apa kabar, Nona?" Masih dengan topi panser hijau dan jaket hitam kesayangannya yang lusuh dimakan waktu.

Gw nggak ingat pasti kapan mulai kenal dia, Yang pasti, wajahnya selalu ada disetiap diskusi yang gw datengin. Waktu warung rawon bude di kampus kami belum pindah ke sisi timur kantin, gw, mas Bintang, mas Wahyu, dan Bilven sering berbagi lembaran koran bersama disitu, berusaha memanfaatkan waktu luang, sambil menunggu jam kuliah. Terkadang bertukar joke seputar berita koran yang bikin kami ngikik setengah mati sendiri. Bahkan dulu, saat Bilven masih ditengah usaha meraih gelar masternya dari ITB, dia masih suka nongol di kantin gw, melakukan hal sama: memesan secangkir kopi hitam. Dan masih ditemani topi panser dan jaket hitamnya.

Pernah sekali itu, saat senja bergerimis, gw lihat dia dari jauh. Menggenggam sebuah koran, dan sedang berpikir untuk menerobos hujan. Hal yang dia lakukan benar-benar diluar dugaan gw, bukannya menjadikan koran itu sebagai "payung" agar air hujan sedikitnya tidak membasahi kepala, eh, malah koran itu diselipkan dibalik jaketnya, dan dibiarkan air hujan yang dingin itu memeluknya dalam diam. Damn, dia lebih mencintai koran dibanding dirinya sendiri.

Terakhir ketemu, awal tahun 2006, Waktu itu gw, dan akwan-kawan gw mampir ke UltimusGw sempat ngambil foto mas Lilik dan Bilven yang berangkulan dengan akrabGw masih ingat, sebelum itu, kami juga pernah ketemu di acara diskusi tentang puisi dan kesenian. kalo nggak salah, di pusat kebudayaan Perancis, Bandung. Usai acara, gw ngeliat, eh ada Bilven, dia juga ngeliat gw. Dan dengan gaya yang persis sama seperti yang lalu-lalu, dia tersenyum, "Apa kabar, Nona?" katanya singkat. With his deadly smile.

"Ding!"  Lalu ada Pesan masuk di ponsel gw. Lamunan gw seketika buyar, Ternyata dari seorang mantan aktivis lain, "Kamu Lagi dimana? Sedang apa? Sama siapa? Kepalaku pusing, baru pulang. Dari tadi pagi ikut training partai. Aku mau berangkat ke Norway."

Gw selalu mengagumi semua ciptaan Tuhan, Tapi gw sangat bersyukur jika gw bisa, setidaknya sempat, bertemu dengan laki-laki seperti Bilven yang berani menghadapi hidup.
 
Teringat potongan puisi Widji Tukul "Tujuan Kita Satu Ibu" kalimat ini gw persembahkan untuk Bilven:

kita tidak sendirian, kita satu jalan
tujuan kita satu ibu: pembebasan!


Sunday, March 18, 2007

Perempuan Tersudut Waktu

Sore-sore, gw lagi riweuh banget ngedit tabel kusut di server unix 'favourite' gw. Gak ada angin gak ada ujan, gw tetiba aja keinget Gigi, temen kuliah dulu. 

She once wrote me an email:

Setelah membaca blog lo, gue makin yakin kalo gue harus ketemu sama lo, yum. Secara gue sekarang lagi berada dalam hubungan yang bikin gue nggak tenang dan nggak gue banget deh.

Udah gitu kata-katanya sama banget sama (blog) lo lagi, dia bilang 'kamu kok maksa? aku nggak suka dipaksa' ah bajingan.. gue berasa restless selain berasa sendirian.. tapi gue ngerasa baik baik aja, karna kata loe kan "lebih baik galau daripada menyerah dalam kemunafikan"

ah gila lo, yum.. gue kangen berat sama lo.. 

gue harus cerita banyak nih sama lo, secara banyak hal yang patut gue pertanyakan di hidup gue.. lo tengokin gue ke surabaya dong yoem, weekend gitu, ntar nginep di kos aja.. sebenernya lately gue agak agak desperate sih, pokoknya kangen banget nih sama lo.. 

I miss her a lot. 

Dalam dunia kami yang bergerak begitu cepat dan tanpa maaf, kami sangat merindukan waktu yang bisa dibekukan secara instan (atau kalo bisa abadi juga boleh). Berangkulan dengan malam yg tenang, ditemani segelas kopi, duduk bersamping-sampingan, tanpa suara ataupun kata-kata, hanya sama-sama menjelajah langit bergemintang. 

Kami berdua, typical manusia modern yang terikat dunia konservatif masa lalu. Kami memang dua wanita sophisticated yang selalu dihadapkan pada pilihan ruwet. 

Saat ini, hampir semua realitas yang ada, bisa dengan mudah kami raih. Tetapi realitas itu melahirkan anomali tatkala tekanan lain mematikan rasionalitas. Terdengar sedikit utopis, but that's why we're so simple but keep sophisticated. We believe we both were lady warriors who fought back to back long time a go, in another different life.

Semua laki-laki yang pernah mengarungi hidup bersama kami, selalu kalah diakhir. At they end kami selalu menjadi pihak yang superior, pemberontak dan tak mau diatur. Padahal kenyataannya, dalam setiap hubungan yang pernah kami jalin, Gw n Gigi adalah dua wanita gila yang mau mengalah dan melakukan apapun demi cinta.

Kami berdua berdarah Jawa (tanpa bermaksut untuk rasis), sehingga aliran "dewi sembada" dalam diri kami sudah begitu kental. Mungkin memang sudah digariskan begitu. Ada apa dengan dunia? dunia tiba-tiba saja menjadi tempat paling sunyi dan asing buat kami.

Those boys always finnaly fought us and said: Perempuan modern adalah sesuatu yang outwords, kami sebagai laki-laki tidak mau diinjak-injak begitu saja (miris bergerimis dengernya). Dalam emosi kami yang begitu rungkut dan padat, kami hanya ingin berkata bahwasanya celah perspektif feminisme bukan dilihat dari tempat, lalu apa salahnya menjadi sesuatu yang berbeda? Apa salahnya menjadi seorang perempuan seperti gw dan Gigi? toh modernisme itu nggak akan begitu saja mematikan kodrat kami sebagai seorang perempuan, kalau kami keren, itu semua hanya sebuah pencapaian kami, pencapaian energi maskulin kami para perempuan untuk keluar dari typicalitas.

Dalam batas emosi itu, gw ditarik kembali lagi ke masa sekarang, menemani beberapa baris command unix yang tadi gw ketik. Namun, gw masih termangu. 

Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata: Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan, dan Jika Anda mempersiapkannya dengan baik, Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik.

Gw dan Gigi so much believe, women like us bukan lah penjajah, kami hanya seorang filosofer numpang lewat, yang sangat menghargai hidup lewat citra warna yang sedikit berbeda dari perempuan kebanyakan.

Sunday, March 4, 2007

a Silent Good bye

heningmu tersekap kudekap
menggenapkan sunyimu di malam dinginku

kelak, saat kau singgah dalam mimpiku
mungkin tak ada lagi airmata gugur

sebab masa kita telah usai dan rindu telah selesai dibekukan

Saturday, March 3, 2007

Tentang Kekuatan

Sungai yang diarungi dapat membuatmu kuat.
Tapi sungai yang hanya kamu pandangi,
hanya akan melemahkan hati.

Sunday, February 25, 2007

Untittled

Seperti air mengalir katamu?
mengalir seperti jua anganmu tak henti.

berhentilah disini.. dihatiku,
jika kau mau.[]

Monday, February 19, 2007

Esensi Menjadi Manusia

Orang akan melupakan apa yang kamu katakan,
Orang juga akan melupakan apa yang kamu lakukan.

Tapi, orang tak akan pernah lupa bagaimana kita membuat mereka merasa berarti.[]

Thursday, February 15, 2007

My Primitive World

Baru beberapa minggu belakangan, gw mengenal pria perenung ini. He's way too complicated, mostly in translating language, symbols, enigma, and expressions. His brain wave is just unusual. 

Pria ini pernah bilang sama gw: "Jiwamu bervibrasi di satu titik dalam lintasan domain pikir yang kamu ciptakan sendiri. Semua bisa mutlak dan nisbi. Makanya kamu berbeda sama orang-orang kebanyakan."

Dia juga pernah bilang: "Waktu hati ingin menumpahkan ekstase, tangan jadi terlalu lambat untuk ngetik sms."

Dia juga pernah bilang "Ah, buatku itu cuma redaksi pujian standar, coba tolong dibuat formula pujian lain yang lebih berkelas dan sophisticated."

Gw inget, bapak gw pernah cerita kalo orang melayu/jawa ningrat jaman dulu, kalo ngomong selalu satir. Berpuisi. Berima. Sama juga seperti orang-orang Cina di film-film kekaisaran yang gw tonton, selalu pakai perumpamaan. Secara cultural, orang dulu memang rupanya kalau berbahasa nggak pernah lugas dan langsung. Bahasa yang terlalu lugas dan langsung dianggap tidak indah, tidak indah means informal dan tidak berbudi luhur, tidak menunjukkan sebuah etika ningrat/etika royal clubs.

Ilmu komunikasi ini terbilang kuno, tentang bagaimana manusia bisa merangkai kata/sindiran terburuk sekalipun dengan sangat indah dan sopan lewat satir-satir dan kumpulan kosakata yang dirangkai sedemikian elok untuk mempertontonkan budi pekerti luhur. 

Ah, ini definetely 180 degree berbeda sama gw. Gw 125% lugas dan stright forward. Gw nggak tau perbedaan bahwa dichotomy utopis-realistis dipakai untuk domain sosial problem solving atau domain art appreciation. Gw juga nggak butuh ngebahas gimana cara ngatur pattern to construct karakter sejati gw.

Untung gw hidup di jaman sekarang. Jadi nggak terlalu pusing untuk menginterpretasikan sindiran-sindiran atau satir-satir yang dijalin dengan indah (padahal isinya kejulidan/sinism aja). 

Hidup gw simple. Ngga usah capek bernarasi yang indah-indah, mending ngopi, boleh single origin Ciwangi atau Wamena Siphone, sambil memandangi rintik gerimis di senja biru ungu yang dihiasi semburat garis pink dan oranye, lalu nyetel lagu "The Very Though of You"-nya Janet Saidel yang lamat-lamat mengisi udara semanis jingga. 

Hm, spending hours without doing nothing yet loving it. 
Welcome to my primitive world.[] 


Sunday, December 17, 2006

My Dad

Bokap gw bisa dibilang nyentrik. 
Kagak ada di dunia ini, cowok yang unik kaya bokap gw.

Gw belajar banyak hal dari bokap. Mulai Ajaran Agama berbagai aliran (Muawiyyah, Sunni, Syiah), sampai ke Filsafat Mistik (Ali, Abd. Qadir Jaelani, Halajj, Rabiah, Rumi), ataupun Filsafat hidup Kejawen.

Pada suatu hari, bokap-nya temen kantor gw, meninggal. Nggak lama, nggak sampe sebulan, Ibunya juga ikut meninggal. Tragic. Well, that's life. Sebusuk-busuknya masalah, kagak ada yang lebih busuk dari keilangan orang tua. Paitnya lagi, temen gw ini anak tunggal, sama kaya gw.

Sadly for me, artinya gw bakal ngalamin apa yang dia alamin sekarang.

Gara-gara case ini, pas gw nongkrong sama bokap di seputaran Hang Lekir, nggak tau kenapa, gw dengan polos (atau goblok) bilang ke bokap: "Pah, aku nggak mau papa mati.."

Ditanya kayak gitu, bokap gw cuma ngisep rokok dalem-dalem sambil bilang: "Mati.. mati.. emang aku kucing piaraanmu..?"Bokap gw dengan santai cuma ngelirik gw: "Kematian itu hal yang pasti ndut, Ngga ada yang bisa ngelawan."

What an answer. Singkat, padat, cepat.

Nggak lama.. bokap matiin rokoknya yang emang dah abis itu, "Kalau kamu yakin kamu beriman sekaligus percaya sama semua ketentuan Gusti Allah, kamu HARUS mulai belajar menerima hal yang PASTI itu mulai dari SEKARANG.." 

Cerita itupun diakhiri oleh jari telunjuk bokap (yang dipake buat negesin kata SEKARANG) mendarat dengan mulus di jidat gw.

Itulah bokap gw, Bokap yang setiap malem gw doain jadi immortalkayak di serial "highlander".

Well, death is a certain thing dan emang kagak bisa ditawar lagi. Nggak hanya bokap, semua pasti punya masa dan punya umur masing-masing. Kayaknya bakalan sulit banget buat gw untuk nerima kenyataan itu nanti. Yah, mudah-mudahan saat itu keimanan gw udah kuat, jadi gw bisa tabah dan ikhlas ngelepas bokap.[]

Friday, September 29, 2006

To Whom It May Concern

Senja emas yang larut pada laut,
melukis samar wajahmu lewat terjal karang..

Aku tak pernah tahu berapa lama engkau singgah disini,
tapi iramamu serupa iringan detak jam dinding yang kuhapal..

di belantara manakah kita 'akan' bertemu lagi?
sebab aku mulai letih menghitung rasi ataupun membaca peta cuaca dalam perjalanan yang kulewati dengan kaki pincang dan luka di dada kiri ini..

==========

"Cinta itu sederhana.. Take it or leave it! Jangan setengah-setengah".

Friday, September 15, 2006

Wanita Karir?

Most of men I've met, kalau gw tanya: "Lo pada setuju gak kalo bini lo Kerja?". Dan 98% dari mereka bilang: "Kita pinginnya istri dirumah aja, jaga anak, nggak usah kerja."

Sama halnya pas gw bilang kalo gw pekerja keras teladan, dan gw maunya tetap kerja ke pacar gw yang sekarang. Si pacar cuma bilang: "Ya, nggak papa, nanti kalo udah nikah ama aku.. kan nggak."

So, I told him bravely: kayanya kita nggak satu prinsip soal itu. 

I felt that I was intimidated with superioritas cowok.

Gw jadi ingat bukunya Pramudya. Gw ambil dari lemari buku gw. Gw buka satu halaman yang membungkus semua mimpi dan harapan gw saat ini. 

Wanita Jawa dan Canting..
==============
Canting itu alat untuk melukis batik, terbuat dr kayu. Sederhana, apa adanya, jujur, dan kalau mau dipakai canting harus ditiup dulu.

Perempuan jawa itu ibarat canting. Hidup dari nafas lingkungan rumah tangga, terkesan tanpa daya dihadapan laki-laki..

tapi dibalik itu, ada kekuatan tuk menggerakan roda rumah tangga. Dia melahirkan dan merawat anaknya. 

Dia memproduksi batik dgn banyak karyawan, berbisnis dipasar. Bersinggungan dgn pembeli, pemborong, pengutang, dan penagih hutang. Dirumah dia kembali melayani suami dan merawat anak.

Beda dgn laki-laki yg kerja nya cuma ngomong soal2 politik, sambil minum teh di pendopo, atau main judi sampai larut malam..

Buatku perempuan jawa itu luar biasa. Apa yg kita lihat lemah itu ternyata menjadi sumber energi rumah tangga, tanpa ada keinginan untuk diperhatikan atau dianggap istimewa.
==============

Some women out there did not have much choice but to go to work. I bet they have their own reasons for this.

Semoga wanita-wanita yang masih mau terus bekerja setelah menikah tetap akan menemukan market mereka. Jodoh mereka. yang satu prinsip dengan mereka.

Well, Kopi bukanlah air tebu, Kopi tetaplah kopi, kopi selalu punya sisi pahit yang tidak mungkin disembunyikan.[]

Wednesday, August 9, 2006

Do You Speak Lateral?

Gw punya sahabat pena. 
Kami sering bertukar cerita/kabar lewat email, bukan surat lewat pos ya (jadi nggak jadul-jadul amat). 

Di email, kesan yang bisa ditangkep: temen gw ini Extrovert parah. Tapi pas ketemu: dia king of introvert..

Gw sempet agak bingung sih, dan karena Kepo, gw beranikan diri untuk tanya. Dia jawab gini:

"Bahasa oralku sudah teralihkan,
padahal kenyataan hidup selalu menuntutku untuk
mengeluarkan bahasa oral instead of bahasa lateral.
lalu akan jadi apa aku ini? Will I survive of this life?"

Ternyata bahasa lateral beneran bisa membuat seseorang memiliki "soul" yang beda. Tapi perlu di inget juga bahwa tanpa kemampuan berbahasa oral, kita akan lebih pasif dan looks nggak ekspresif.

Buat gw gak masalah sih.. 
Kita jangan terlalu kaku mempermasalahkan pencapaian hidup melalui satu CARA aja. Masih banyak jalan menuju Roma. 

in this case, cara lo bicara, baik oral ataupun lateral, 
yang penting tetaplah jadi baik, jadi diri sendiri dan menikmati hidup.[]

Saturday, August 5, 2006

Tamparan Itu

I've been run into a toxic relationship few times before. 
Tapi baru kali ini ngerasain dipukul ama cowok. 

And percaya nggak, sakit di fisik nggak begitu terasa. 
Padahal jelas badan lebam, dan jadi punya beberapa cinderamata:
tompel merah biru keunguan di bahu dan di wajah.. 

Anehnya, sakit secara fisik betul-betul gak seberapa kerasa.
Sakit di dalam hatinya itu yang gila-gilaan.
Beneran nggak karu-karuan.

Sampai nggak bisa tidur 3 hari.
Nggak doyan makan, stabilitas mental terganggu.

Karena ini kali pertama, gw sampe bingung, 
ini dimana sebenernya sih sakit aslinya?

apa di kepala?
apa di pipi?
apa di mata?
apa di jempol?

Apa ini namanya kondisi syok? 
ah, gw nggak tau, nggak paham. 

Gw cuma mau bilang ke semua laki-laki, 
Waktu ngaji malem Jum'at, bokap gw ngutip salah satu hadist..

"La tadhribu imaallah.." yang artinya: jangan kalian pukul kaum perempuan (riwayat Imam Abu Dawud Nasai & Ibnu Majah), karena perempuan adalah bagian dari cahaya Tuhan.[]

Thursday, July 27, 2006

About Letting Go

If you love something, let it go.

If it comes back it's yours.
If it doesn't, it never really was in the first place.