Sore-sore, gw lagi riweuh banget ngedit tabel kusut di server unix 'favourite' gw. Gak ada angin gak ada ujan, gw tetiba aja keinget Gigi, temen kuliah dulu.
She once wrote me an email:
Setelah membaca blog lo, gue makin yakin kalo gue harus ketemu sama lo, yum. Secara gue sekarang lagi berada dalam hubungan yang bikin gue nggak tenang dan nggak gue banget deh.
Udah gitu kata-katanya sama banget sama (blog) lo lagi, dia bilang 'kamu kok maksa? aku nggak suka dipaksa' ah bajingan.. gue berasa restless selain berasa sendirian.. tapi gue ngerasa baik baik aja, karna kata loe kan "lebih baik galau daripada menyerah dalam kemunafikan"
ah gila lo, yum.. gue kangen berat sama lo..
gue harus cerita banyak nih sama lo, secara banyak hal yang patut gue pertanyakan di hidup gue.. lo tengokin gue ke surabaya dong yoem, weekend gitu, ntar nginep di kos aja.. sebenernya lately gue agak agak desperate sih, pokoknya kangen banget nih sama lo..
I miss her a lot.
Dalam dunia kami yang bergerak begitu cepat dan tanpa maaf, kami sangat merindukan waktu yang bisa dibekukan secara instan (atau kalo bisa abadi juga boleh). Berangkulan dengan malam yg tenang, ditemani segelas kopi, duduk bersamping-sampingan, tanpa suara ataupun kata-kata, hanya sama-sama menjelajah langit bergemintang.
Kami berdua, typical manusia modern yang terikat dunia konservatif masa lalu. Kami memang dua wanita sophisticated yang selalu dihadapkan pada pilihan ruwet.
Saat ini, hampir semua realitas yang ada, bisa dengan mudah kami raih. Tetapi realitas itu melahirkan anomali tatkala tekanan lain mematikan rasionalitas. Terdengar sedikit utopis, but that's why we're so simple but keep sophisticated. We believe we both were lady warriors who fought back to back long time a go, in another different life.
Semua laki-laki yang pernah mengarungi hidup bersama kami, selalu kalah diakhir. At they end kami selalu menjadi pihak yang superior, pemberontak dan tak mau diatur. Padahal kenyataannya, dalam setiap hubungan yang pernah kami jalin, Gw n Gigi adalah dua wanita gila yang mau mengalah dan melakukan apapun demi cinta.
Kami berdua berdarah Jawa (tanpa bermaksut untuk rasis), sehingga aliran "dewi sembada" dalam diri kami sudah begitu kental. Mungkin memang sudah digariskan begitu. Ada apa dengan dunia? dunia tiba-tiba saja menjadi tempat paling sunyi dan asing buat kami.
Those boys always finnaly fought us and said: Perempuan modern adalah sesuatu yang outwords, kami sebagai laki-laki tidak mau diinjak-injak begitu saja (miris bergerimis dengernya). Dalam emosi kami yang begitu rungkut dan padat, kami hanya ingin berkata bahwasanya celah perspektif feminisme bukan dilihat dari tempat, lalu apa salahnya menjadi sesuatu yang berbeda? Apa salahnya menjadi seorang perempuan seperti gw dan Gilang? toh modernisme itu nggak akan begitu saja mematikan kodrat kami sebagai seorang perempuan, kalau kami keren, itu semua hanya sebuah pencapaian kami, pencapaian energi maskulin kami para perempuan untuk keluar dari typicalitas.
Dalam batas emosi itu, gw ditarik kembali lagi ke masa sekarang, menemani beberapa baris command unix yang tadi gw ketik. Namun, gw masih termangu.
Semoga Allah memberi rahmat kepada penyair Sungai Nil, Hafizh Ibrahim, ketika ia berkata: Ibu adalah madrasah, lembaga pendidikan, dan Jika Anda mempersiapkannya dengan baik, Maka Anda telah mempersiapkan bangsa yang baik.
Gw dan gita so much believe, women like us bukan lah penjajah, kami hanya seorang filosofer numpang lewat, yang sangat menghargai hidup lewat citra warna yang sedikit berbeda dari perempuan kebanyakan.

No comments:
Post a Comment