Waktu pulang kerja, Sambil duduk dibangku taman dekat kantor, menyeruput teh hangat di negara antah berantah ini. Sudah 6 kali lebih sedikit gw menguap. Oksigen di otak semakin menipis. Ada perputaran misterius dikepala gw yang berebut minta dihapus. Seribu pertanyaan gw tentang "Perempuan" yang telah banyak terjawab, tiba-tiba menimbulkan sebuntel masalah baru yang membuat gw KEMBALI terjebak. Ini seperti labirin tak berujung!
Secara TEORI (menurut KONSEP "Kartini"), harusnya gw sebagai perempuan, dimasa sekarang ini telah MERDEKA. Tapi menilik kejadian yang sudah-sudah, justru realisasi 'konsep Kartini', kini menjadi semakin blur dan absurd. Gw tetap merasa kalo para perempuan masih "terpasung" dalam teori kebebasan ini. Masih terjajah oleh laki-laki.
Terpasung dari sisi luar berupa 'siksaan' mantap egosentris lelaki, ataupun terjajah dari dalam berupa pembatasan yang mengakibatkan creativity congest (melambatnya kreatifitas) akibat kata-kata sakti: KODRAT PEREMPUAN.
Dua kata sakti tersebut membuat gw stuck, karena sebagai perempuan, kami menjadi takut untuk bergerak mengikuti visi dan nurani kami sendiri. Akibatnya? mau mundur salah, mau maju juga akan tetap jadi masalah. Dengan kata lain, apa yang diharapkan, dengan bagaimana kenyataannya, SUNGGUH jauh bergeser dari titik awal tujuan konsep Kartini bermula.
Wacana ini timbul hanya dari hal sepele sebenarnya, bermula dari diskusi singkat dengan My ishtar summer: Zachrie, tentang 'Mengapa Perselingkuhan di Indonesia kian marak terjadi'. Sebagai statement pembuka, Zach berasumsi bahwa sebenarnya Istri juga turut mengambil peran penting dalam menentukan tinggi rendahnya probabilitas perselingkuhan yang dilakukan suami.
Then my question is: "WHY?"
Apakah karena Istri mengalami perubahan secara fisik seiring waktu?
Apakah karena karena Suaminya bosan?
Apakah karena kebutuhan seks yang monoton?
Apakah karena kenaikan pangkat suami?
Apakah karena gelimang harta dan tahta suami?
Apakah karena karena prestige dan tuntutan sosial suami?
Zach menjawab sendiri pertanyaan itu: "yes, of course. Itu manusiawi."
Gw merasa ada ketimpangan disitu. But my next question is: "HOW? Bagaimana itu bisa terjadi?"
Secara diplomatis Zach menjawab: "Wajar sweetheart, dalam dunia pekerjaan beserta tantangannya, Suami mampu terus mengupayakan dirinya untuk lebih maju, lebih kompleks, lebih majemuk, lebih survived dll dkk dsb, sehingga secara automatic, seiring bertambahnya waktu, pencapaian sang suami terhadap kualitas hidupnya dapat terus meningkat secara significant..."
By that time, I did not question him. Just silent. But this silence is deafening.
Zach melanjutkan: "Well, as you may know, Istri itu lebih banyak di rumah, dan perubahan kualitas hidupnya nggak berjalan begitu cepat, dunia istri berjalan jauh lebih lambat dari sang suami.. dan akibatnya bisa kamu prediksi kan? sang suami akan merasa nggak puas, lantas mencari sosok wanita 'baru' yang dapat berimbang dengan dirinya, yang selevel dengan pencapaian kualitas dia.."
Gw menarik nafas, rasanya agak tidak adil, but I did not question him further.
Tapi benak gw berisik: "Why that husband just don't give his wife a chance? Maksut gw, biarkan Istrinya bekerja. Atau at least, let her does some activities untuk menjadikan dirinya juga bisa maju, bisa menjadi lebih kompleks, lebih majemuk, juga lebih survived seperti sang suami.. Kalo memang suaminya mengerti, lantas kenapa tidak memberikan hak dan kesempatan yang sama? the solution is so simple..."
Dari situ, tatanan konspirasi murni di otak gw bergejolak. Jangan-jangan, pembodohan 'konsep Kartini' yang kayak gini masih berlanjut pada banyak perempuan di luaran sana.
Pasti diluaran sana masih ada lelaki bodoh dan apatis yang ingin berlari kencang guna mencapai segala kesempurnaan hidup seorang diri (padahal menikah itu berarti ada dua orang, bukan?) lalu setelah semua pencapaian dan kesempurnaan itu dalam genggaman, si lelaki bodoh ini merasa Istrinya nggak "selevel" dia dan tidak patut mendampinginya lagi, sehingga dia tinggalkan si Istri dan mencari wanita lain yang dirasa mampu mengimbangi kesempurnaan hidup si lelaki hebat ini. Sementara itu, bisa jadi, si Istri menjadi "congest" (melambat) bukan karena emang secara lahiriyah bodoh, melainkan karena rayuan busuk sang suami: "Sayang, Biar saya yang melakukan semuanya untuk kamu, Kodrat istri (maaf) dirumah saja ya?"
SINTING!
ini namanya Azas manfaat, memanfaatkan atas nama kodrat kepatuhan perempuan, dan beberapa waktu setelah kepatuhan itu, laki-laki berkata: "Buset, perempuanku ini terlalu lambat, nggak sesuai jaman, buang saja!" ini Gila namanya. Sungguh tak adil.
Melihat lamanya gw terdiam, Zahrie menjitak pelan jidat gw dengan penuh kasih sayang, "That's why, you need to find a super fine, cleaver and wise partner. Like me. For sure I will not let you walk behind me."
He's reading my mind.
Gw tenggelam dalam pikiran gw. Pria pada umumnya selalu bereuforia dengan kondisi yang ada, sehingga dalam diri mereka nggak ada sense of crisis yang mampu membangkitkan kesadaran moral mereka akan adanya kompleksitas dan kekuatan terdalam seorang perempuan.
Kebayang deh pada masa dimana kondisi pencapaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan masih berimbang, lelaki itu akan berkata:
"Neng, Lelaki adalah kepala keluarga dan harus bertanggung jawab terhadap keluarga yang dimilikinya, Well, sebenernya Abang sangat setuju kalo kamu harus menjadi wanita yang memahami dunia kehidupan dan memiliki pengalaman yang segudang. Abang dukung kamu untuk memiliki berbagai kesibukan, tapi neng, sampai kapan? apakah ketika sudah menikah.. dirimu akan tetep jd wanita super? Kamu harus bisa mengurangi kesuperanmu karena kamu harus melayani keluarga, itu kodrat perempuan."
Lagi lagi koata: kodrat. Ini yang namanya perempuan terjebak dalam pasungan. Itu nggak fair sama sekali. Apanya yang harus dikurangi? Tingkat keSUPERan seorang wanita? I am not 100% feminist, but I extremely disagree for this.
Dengan berkeluarga, harusnya lelaki berharap para wanitanya menjadi semakin cerdas! Ngurus rumah tangga, ngurus anak, ngurus finance keluarga, ngurus suami, ngurus kerjaan, membutuhkan kesabaran dan kecerdasan tingkat tinggi.
As a matter of fact, generally, memang pertama: banyak lelaki yang cenderung nggak sadar telah memulai proses pelambatan pada perempuan. Kedua, Perempuan cenderung 'manut', nurut, dan luluh cuma gara-gara kata: "Kodrat".
jika posisinya seperti itu, perempuan pasti berada dalam kondisi terhimpit seperti sandwich, mau mundur salah, mau maju, tetap akan bermasalah. Mau mundur, laki lo cari 'mistress' baru, mau maju, dibilang melawan kodrat. Emansipasi dari hongkong!
Gw jadi inget, gw pernah terlibat dalam sebuah diskusi seru tentang Perempuan. Awalnya kita lebih membahas tentang bagaimana orang-orang selalu memandang perempuan sebagi objek, titik. Well, secara biologis, Perempuan nggak statis gitu aja. Perempuan juga merupakan substansi yang bisa berfikir dan ada kemungkinan LEBIH cerdas dari laki-laki. Fakta itu merupakan salah satu produk emansipasi, karena emansipasi untuk masa sekarang, juga berarti: "pemberi inspirasi".
Kebayang kan pribahasa: "Behind great man lies a great woman"?
Lalu Kebayang juga nggak, gimana majunya bangsa kita kalo kualitas dari segi mental dan psikis seorang perempuan meningkat lebih baik?
Gw pernah dicap sebagai wanita nggak tau yang nggak mengindahkan "kodrat" gw sebagai seorang perempuan (Ah, mental manusia jajahan! kebiasaan nggak mau mengkaji lebih dahulu, tetapi langsung memvonis!). Ini bukan masalah butuh atau nggaknya gw sama lelaki, gw ini cuma memberikan pandangan bahwa nggak boleh ada penciptaan "pasung" jenis baru yang menghambat kemajuan seorang wanita dalam menata kehidupannya.
Lelaki juga harus bersikap lebih cerdas untuk mesikapinya, jangan hanya berkata sepakat, tapi dibelakang mengumpat. Bagaimanapun peran lelaki sangat penting untuk mengupayakan penghilangan pasung-pasung penjerat kebebasan wanita ini.
Kita butuh lelaki yang semakin cerdas dan mampu melihat what's beyond. Lelaki yang dapat mengesampingkan ego dan mampu memberikan dukungan penuh agar konsep 'Kartini' nggak sekedar berada dalam garis teori. Kita butuh lelaki yang 'bermoral' dimana kearifan moral itu nggak murni dari otak (pemikiran) mereka, tetapi lebih bersumber dari hati.
Kita nggak hanya perlu meningkatkan kecerdasan berpikir seorang perempuan, tapi kita butuh penciptaan kondisi sinergis dan kondusif untuk mendukung perempuan dengan segela keterbatasannya. Keterlibatan seorang pria yang bijak, cerdas, dan memiliki nurani menjadi main ingridient dalam konsep resep "pembebasan pasungan pada perempuan" ini.
Masalahnya, elemen masyarakat kita terlalu majemuk, dan sangat sulit menyamakan persepsi. Wacana revolusi pembebasan perempuan dalam pasungan ini terlalu imajinatif untuk direalisasikan. So, ada ide untuk keluar dari labirin setan ini? (kadang sesama perempuan sendiri malah justru membantu memasang pasungan kepada sesama perempuan lain, ini brutal factnya).
Gw berharap, di Hari Kartini ini, semoga belenggu, rantai dan "pasung" itu benar-benar bisa lepas.
Andaikata aku jatuh ditengah-tengah perjalananku, aku akan mati bahagia, Sebab bagaimanapun jalan telah terbuka.. (Habis gelap terbitlah terang, Door duisternis tot licht - April 1911)
Selamat Hari Kartini, Wahai para wanita Indonesia. Berbahagialah kita atas 96 tahun pelepasan rantai dan "pasung" perbedaan Gender yang sempat menghimpit arah, ruang gerak dan visionari kita sebagai Perempuan.
(This Blog, surely, debatable)

No comments:
Post a Comment