Most of men I've met, kalau gw tanya: "Lo pada setuju gak kalo bini lo Kerja?". Dan 98% dari mereka bilang: "Kita pinginnya istri dirumah aja, jaga anak, nggak usah kerja."
Sama halnya pas gw bilang kalo gw pekerja keras teladan, dan gw maunya tetap kerja ke pacar gw yang sekarang. Si pacar cuma bilang: "Ya, nggak papa, nanti kalo udah nikah ama aku.. kan nggak."
So, I told him bravely: kayanya kita nggak satu prinsip soal itu.
I felt that I was intimidated with superioritas cowok.
Gw jadi ingat bukunya Pramudya. Gw ambil dari lemari buku gw. Gw buka satu halaman yang membungkus semua mimpi dan harapan gw saat ini.
Wanita Jawa dan Canting..
==============
Canting itu alat untuk melukis batik, terbuat dr kayu. Sederhana, apa adanya, jujur, dan kalau mau dipakai canting harus ditiup dulu.
Perempuan jawa itu ibarat canting. Hidup dari nafas lingkungan rumah tangga, terkesan tanpa daya dihadapan laki-laki..
tapi dibalik itu, ada kekuatan tuk menggerakan roda rumah tangga. Dia melahirkan dan merawat anaknya.
Dia memproduksi batik dgn banyak karyawan, berbisnis dipasar. Bersinggungan dgn pembeli, pemborong, pengutang, dan penagih hutang. Dirumah dia kembali melayani suami dan merawat anak.
Beda dgn laki-laki yg kerja nya cuma ngomong soal2 politik, sambil minum teh di pendopo, atau main judi sampai larut malam..
Buatku perempuan jawa itu luar biasa. Apa yg kita lihat lemah itu ternyata menjadi sumber energi rumah tangga, tanpa ada keinginan untuk diperhatikan atau dianggap istimewa.
==============
Some women out there did not have much choice but to go to work. I bet they have their own reasons for this.
Semoga wanita-wanita yang masih mau terus bekerja setelah menikah tetap akan menemukan market mereka. Jodoh mereka. yang satu prinsip dengan mereka.
Well, Kopi bukanlah air tebu, Kopi tetaplah kopi, kopi selalu punya sisi pahit yang tidak mungkin disembunyikan.[]