"Aku tau kamu baik sama aku, tapi aku nggak bisa maksaan hatiku untuk suka sama kamu."
Ternyata terlepas dari segala keribetannya, cinta juga tetep butuh suatu mekanisme agar mampu bertahan, karena keterbatasan yang terjadi akibat gap ruang dan waktu dapat dengan mudah membolak-mbalikan perasaan manusia.
Di dunia ini, terlalu banyak hal yang memang nggak bisa dipaksakan (namun barangkali, sesekali, layak untuk diberi kesempatan).
Dalam kefakiran pemahaman, pikiran sempit kita tentunya akan memberontak, tak terima, tak mau tahu. Namun, bagaimanapun bijaksana adalah mengerti, bukan dimengerti.
Berusaha memaksa tangan dan kaki membentuk postur semedi, mengatur nafas, sambil berharap kekacauan yang mirip adukan teh tubruk ini dapat "calmly mend" secara perlahan.
Tarik nafas… Buang Nafas..
Kadang pemahaman membutuhkan keheningan. Tapi keheningan itu sendiri membutuhkan energi yang lumayan besar. Dan dalam kondisi low, we might feel that we cannot bear it.
Cinta ditolak saat Jakarta mendadak mendung dan bergerimis amis. Bagi gw, rasanya mirip film rusak yang kecepatannya cuma 0.2 fps (artinya 1 frame per 5 detik, for info: film normal kecepatannya minimal 30 fps). Mendadak semua terasa slow, macet, dan bikin emosi.[]